Categories
Home

Kementrian Mencemaskan Kenaikan Dolar

Kecurigaan justru muncul di Kementerian Energi. Seorang petinggi di kementerian itu mempertanyakan kenapa pemenang tender Kilang Tuban belum diputuskan saat Presiden Jokowi berkunjung ke Rusia. Apalagi, kata dia, Sudirman Said sengaja tidak dilibatkan karena dikhawatirkan bakal menjadi batu sandungan di sana. Sumber di Pertamina menyebutkan kepastian kerja sama hulu minyak dan gas dengan Rosneft saat itu belum menemui titik temu.

Menjelang keberangkatan rombongan Jokowi ke Rusia, menurut dia, direksi Pertamina harus menggelar rapat telekonferensi dengan calon mitranya di negara itu. Pada hari itu, Dwi Soetjipto bolak-balik ke kantor Kementerian BUMN melaporkan perkembangan. ”Saya ingin agar dipastikan aset upstream yang kita mau, bukan yang mereka kasih,” kata Rini, ditirukan sumber di Kementerian BUMN. Rombongan Presiden berangkat ke Rusia pada pukul 00.50, sedangkan kepastian dari Rosneft baru diperoleh pada pukul 19.00.

Karena waktunya sudah mepet, Rini berangkat menggunakan paspor hijau. Setelah rombongan Indonesia tiba, menurut seorang petinggi di Kementerian BUMN, Rusia ngebet agar nota kesepahaman bisa segera diteken di Sochi. ”Mungkin mereka melihat semua sudah oke, makanya Rusia mau segera teken,” ujarnya. Igor Sechin mengakui Rosneft mengincar Indonesia karena posisi geografis yang strategis. ”Sangat logis bagi Rosneft menjalin kerja sama dengan Pertamina untuk berekspansi ke kawasan Asia-Pasifik,” katanya dalam keterangan resmi.

Direktur Pengolahan Pertamina Rachmat Hardadi memastikan Rosneft tidak memperoleh perlakuan istimewa. Menurut dia, proses seleksi di Pertamina cukup panjang. Di tahap awal, Pertamina menyaring sekitar 400 perusahaan minyak di seluruh dunia. Dari situ muncul 36 perusahaan yang diperkirakan mampu memasok minyak mentah. Pada akhir Oktober 2015, tersisa sembilan perusahaan. Dua mengundurkan diri dan satu lagi digugurkan. Pada Februari lalu, Pertamina menyatakan Saudi Aramco, Rosneft, Sinopec Cina, Kuwait Petroleum Internasional, T Oil, dan PTT Thailand lolos ke tahap berikutnya.

Mereka kemudian diundang mengikuti CEO engagement untuk mengecek keseriusan kandidat, sekaligus menyusun kerangka kerja sama. Aramco, yang sebelumnya diunggulkan, tidak mengirimkan perwakilan. ”Kesempatan emas itu tidak dimanfaatkan,” kata Rachmad Hardadi. Tiga minggu kemudian, baru Aramco mengirimkan surat keseriusannya kepada Pertamina.

Menteri Energi Sudirman Said mengakui tidak dilibatkan selama proses seleksi berlangsung. Namun Sudirman membantah anggapan bahwa ia dilangkahi, karena pemilihan mitra bisnis sepenuhnya tugas Pertamina sebagai korporasi. ”Semoga pilihan pada Rosneft mempertimbangkan semua aspek, baik keuangan, teknis, maupun governance,” ujarnya.

Categories
Uncategorized

US Dollar Semakin Hari Semakin Kuat Loh

menelan dana US$ 5 miliar. Adapun proyek kilang di Balongan dan Dumai diperkirakan membutuhkan biaya US$ 10-11 miliar. Seusai penandatanganan itu, Vice President of International Operations Saudi Aramco Said al-Hadrami memaklumi alasan Pertamina memilih Rosneft untuk menggarap kilang Tuban. ”Kami menghargai keputusan tersebut,” kata Al-Hadrami kepada wartawan.

Aramco sebenarnya sudah mengincar Kilang Tuban sejak 2012. Perusahaan ini merupakan yang pertama menyampaikan proposal. Pertamina dan Aramco juga pernah bersepakat membentuk perusahaan patungan. Namun proyek itu tidak berlanjut. ”Salah satunya karena persoalan lahan,” ujar Al-Hadrami. Sudirman mengakui melobi Saudi. ”Saya harus menjaga hubungan baik dengan negara-negara Timur Tengah,” kata Sudirman, yang ditugasi Jokowi sebagai menteri penghubung investasi Timur Tengah.

Menurut Sudirman, setiap keputusan penting harus dibicarakan terbuka kepada calon investor agar tercipta saling respek. Proyek perluasan yang diteken Pertamina dalam dua pekan terakhir itu merupakan bagian dari rencana perusahaan ini memperluas empat kilang yang sudah ada, yakni Cilacap, Dumai, Balongan, dan Balikpapan. Perluasan Kilang Balikpapan akan dikerjakan sendiri oleh Pertamina dengan nilai investasi US$ 2,6 miliar.

Selain membangun kilang baru di Tuban, Pertamina berencana membangun kilang baru di Bontang. Perusahaan pelat merah ini menargetkan kapasitas kilang bisa menembus 2,23 juta barel per hari pada 2025 MUNCULNYA Rosneft tak lepas dari peran Setiawan Djody. Sebagai Ketua Perhimpunan Indonesia-Rusia, Djody memiliki peran sentral mempromosikan Rosneft ke Pertamina. ”Saya hanya mengenalkan. Selanjutnya sudah bisa antardireksi langsung,” kata Djody, yang saat dihubungi Rabu pekan lalu tengah berada di Guangzhou, Cina.

Dwi Soetjipto memastikan tidak ada keterlibatan Djody dalam kerja sama antara Pertamina dan Rosneft. ”Saya tidak pernah merasa ada pihak lain,” ujarnya. Bantahan juga datang dari Deputi Menteri BUMN Bidang Energi Edwin Hidayat Abdullah. ”Saya tidak pernah melihat dia,” katanya melalui pesan WhatsApp, Jumat pekan lalu. Edwin menepis anggapan bahwa kerja sama Rosneft-Pertamina dipaksakan. Ia memastikan Pertamina sudah melakukan beauty contest dan pembicaraan telah berlangsung berbulan-bulan